Introspeksi

Perihal manusia dan kebenaran.

Introspeksi

Suatu hari Tuhan menciptakan cermin yang disebut dengan Cermin Kebenaran. Itu adalah cermin raksasa yang hanya ada di langit. Ia disebut Cermin Kebenaran karena tidak pernah berbohong; selalu menampilkan bayangan sesuai dengan yang becermin.

Pada hari lain Tuhan menciptakan bumi. Lalu menciptakan manusia, lalu menyimpan manusia di bumi, lalu menjatuhkan Cermin Kebenaran hingga pecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang menyebar ke seluruh dunia. Manusia di bumi berlomba-lomba untuk memiliki setiap kepingan. Ada yang hanya punya satu, ada yang punya sepuluh, ada pula yang punya banyak. Sial bagi yang tak punya, sebab seumur hidupnya akan selalu disalahkan dan dianggap sesat.

Bagi yang punya banyak, mereka akan mewariskan tiap-tiap kepingan kepada anak dan cucunya. Bagi yang punya satu, mereka akan memecahnya, lalu membaginya kepada anak. Lambat laun, kepingan Cermin Kebenaran kian mengecil, tak sedikit pula yang hilang. Ada yang terkubur di tanah, ada yang tenggelam di laut, ada yang hancur.

Tetapi manusia adalah makhluk yang banyak akal. Mereka mulai menemukan sebuah metode untuk menjaga kepingan yang tersisa. Sebagian menimbunnya di halaman belakang, sebagian menyimpannya di kotak aman. Apa pun caranya, mereka akan membuat kepingan Cermin Kebenaran menjadi tetap milik mereka.

Ribuan tahun kemudian, para manusia modern hanya mendengar cerita bahwa leluhur mereka pernah memiliki kepingan Cermin Kebenaran. Mereka tak pernah tahu wujudnya seperti apa, tetapi mereka yakin bahwa leluhur mereka memang memilikinya. Kemudian sebagian manusia modern mulai resah. Lantaran tak pernah melihat langsung bentuk kepingannya, banyak yang menganggap kepingan-kepingan itu hanya mitos. Jadi, para manusia modern mulai menciptakan ulang arti kebenaran.

Tetapi tidak semuanya demikian. Masih ada beberapa manusia yang meyakini kepingan Cermin Kebenaran adalah nyata, sekalipun tak pernah melihatnya atau menyentuhnya atau memakainya. Maka terjadilah perdebatan dan manusia terbagi menjadi dua kubu. Lalu dari dua jadi empat. Dari empat jadi enam belas. Dari enam belas jadi sejuta.

Perlahan-lahan, kebenaran mulai jadi samar-samar. Perlahan-lahan, manusia mulai lupa cara becermin.

Tambahkan Komentar

7 Komentar

  1. Jangan lupa bercermin juga, Gip.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku berkaca
      Bukan buat ke pesta.

      Ini muka penuh luka
      Siapa punya?

      --Chairil Anwar, Selamat Tinggal.

      Hapus
  2. Hidup introspeksi!
    Foll back kuy.

    BalasHapus
  3. Dari kenyataan menjadi mitos, sungguh ironi.

    BalasHapus
  4. cermin kebenaran? jadi inget snow white

    BalasHapus
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)