Wiracarita Kompleks Mesias

Ketika semua orang ingin menjadi Batman.

Wiracarita Kompleks Mesias

Saya lahir dan tumbuh di keluarga yang kurang tertarik dengan urusan politik. Tetapi ketika negara dilanda kekacauan, pada banyak kesempatan, ibu saya sering melempar opini tak berdasar yang entah dari mana dia dapatkan. Cocoklogi, kalau kata orang zaman sekarang.

Ketika membicarakan negara, ibu saya akan jadi tukang khotbah yang lebih sibuk mencibir pemerintah ketimbang fokus mengkritik pemerintahan. Menjadi presiden, di kepala ibu saya, adalah menjadi serbasalah. Mengutuk koruptor, bagi ibu saya, jauh lebih penting daripada mencoba memahami kenapa mereka bisa korupsi.

Untungnya ibu saya tidak suka membicarakan politik di media sosial atau di tukang sayur atau di ruang mana pun selain di rumah. Sebab sebagaimana kita tahu, tendensi untuk sok tahu merupakan salah satu bahaya laten yang mengendap dalam diri manusia ketika pikiran tidak mampu memahami suatu peristiwa. Dan penyakit gawat ini rentan menular dengan cara yang teramat gampang: obrolan. (Inilah kenapa gibah selalu asyik dan menerka-nerka keburukan orang lain selalu jadi perbincangan yang menarik.)

Tetapi tentu saja saya tidak membenci ibu saya hanya karena urusan yang ya elah semacam itu. Malah, sering kali, saya merasa terhibur ketika mendengar dia meracau. Toh, dia juga hanya mengoceh sendiri di depan televisi tanpa minta ditanggapi.

Eka Kurniawan, salah satu penulis Indonesia yang konon buku-bukunya jauh lebih laris di luar negeri daripada di negaranya sendiri, pernah membuat catatan pendek untuk para penulis yang sedang migrain dan butuh hiburan. Di catatan itu, Eka bilang, bukalah Goodreads lalu baca ulasan-ulasan karya sastra penulis hebat dari pembaca yang bukan penikmat sastra. Rata-rata komentarnya bisa membuat para penulis tertawa, dan kira-kira hiburan semacam itulah yang saya dapatkan dari berbagai celoteh ibu saya tentang negara.

Apa yang membuat ibu saya bisa menjadi selucu itu? Salah satu jawabannya, menurut Pangeran Siahaan, karena kita tidak mendapatkan pendidikan politik di sekolah.


Saya sepakat dengan Pangeran Siahaan bahwa internet adalah penemuan paling mewah sepanjang catatan peradaban manusia. Perpustakaan digital mahalapang ini, yang memiliki informasi alamak sangat bejibun, bisa membantu kita mempelajari hampir segala sesuatu tanpa harus menunggu penjelasan dari guru.

Namun, di dunia yang para penghuninya ingin tampil lebih pintar melebihi siapa pun, dan hidup pada era segala hal terasa harus dilakukan dengan tergesa-gesa, tampaknya cukup sulit untuk menemukan orang yang mau sabar memahami duduk perkara sebelum berbicara. Maka, untuk menghibur sekaligus mengolok-olok diri sendiri, mari kita kutip satu kalimat asyik dari buku The Information: A History, a Theory, a Flood yang terbit delapan tahun lalu itu:

“Ketika informasi menjadi murah, perhatian menjadi mahal.”
— James Gleick

Situasi menggelikan di alinea sebelumnya akan menjadi kian ruwet apabila banyak orang di negara ini mendadak ingin jadi pahlawan bajik, dengan cara yang tidak bijak. Semacam terserang wabah heroisme tetapi tidak memiliki kapasitas yang memadai.

Messiah complex, kata para ahli, merupakan keadaan pikiran yang membuat seseorang merasa yakin bahwa dirinya ditakdirkan sebagai juru selamat. Adolf Hitler dan Josef Stalin termasuk contoh pengidapnya. Konon mereka percaya bahwa segala bentuk penindasan yang mereka lakukan adalah perjuangan demi kesejahteraan manusia. Tetapi definisi “manusia” yang ada di kepala mereka amat berbeda dengan definisi yang tertera di kamus kita.

Sebenarnya tak perlu jauh-jauh menengok sepak terjang Hitler atau Stalin. Jika ingin cita rasa lokal, kita bisa mengamati perilaku para bajingan intoleran pada Tragedi Mei 1998. Lebih dari 150 perempuan Tionghoa diperkosa, tak sedikit yang meninggal, dan banyak kios milik mereka habis dibakar. Motifnya: krisis moneter. Banyak orang yang menuduh etnis Tionghoa sebagai salah satu penyebab kemerosotan finansial. Tetapi tampaknya di antara mereka tidak ada yang peduli dengan siapa dalang di balik kemerosotan moral secara massal.

Tragedi Mei 1998 mewariskan satu tradisi yang hingga kini masih tumbuh subur di sekitar kita: kecenderungan mendikotomi. Orang-orang beragama mengebom rumah ibadah pemeluk agama lain atas nama perintah Tuhan. Orang-orang heteroseksual menindas kaum homoseksual atas nama perbaikan moral. Orang-orang liberalis mengolok-olok golongan konservatif atas nama intelektual. Apa pun bentuknya, siapa pun pelakunya, orang-orang ini sama-sama mengklaim diri sebagai pribumi dan kelompok yang lain nonpribumi.

Sebentar, siapa pribumi dan siapa probumi?

Sekiranya untuk menjadi pahlawan selalu butuh lawan, perlu disadari juga bahwa tak selamanya sosok musuh yang harus diberantas itu berwujud fisik. Katakanlah gagasan atau sistem, umpama. Bukankah diskriminasi sosial atau ketimpangan kekuasaan juga bahaya? Lebih bahaya lagi kalau kita buta pada relasi siapa memiliki kuasa sebesar apa dan menggunakannya untuk apa.

Sebab siapa tahu, biang masalah utama yang paling perlu kita benahi bukan datang dari luar, melainkan melekat di dalam: cara berpikir, barangkali.

Tambahkan Komentar

13 Komentar

  1. Masalahnya, cara berpikir sebagian anggota pemerintahan adalah gimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, memakmurkan keluarganya, tanpa peduli itu haram atau halal. Memang tujuannya baik untuk keluarga yang sejahtera, tapi gimana dengan rakyatnya sendiri? Jadi ya, tak usah berharap banyaklah. Apalagi pemerintah juga enggan mengajak masyarakatnya buat membaca. Programnya masih sedikit sekali. Buku-buku malah dirazia dan dibakar sama aparat. Bersyukurlah belakangan ini muncul iPusnas. Tapi itu pun belum cukup jika menengok daerah-daerah yang koneksi internetnya lemot dan sering mati listrik. Solusinya baru sedikit dengan mengirimkan buku-buku bacaan dan mendirikan taman baca di sana. Bahkan yang turun tangan justru aktivis kan. Mending rakyat tak usah ketergantungan sama pemerintah. Selama masih mampu buat bekerja sama dengan sesama rakyat dan itu tujuannya baik, lakukan sendiri aja.

    Terus menelusuri sistem pendidikan di luar, kebanyakan siswanya disuruh baca novel ini-itu sama gurunya sebagai bacaan wajib. Negara kita apakah ada? Kalau belum, ya jelas ketinggalan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demi apa pun, saya sangat sepakat dengan komentar ini!

      Hapus
  2. Oke, let say you're right. Gue jadi warga negara yang pola pikirnya sesuai keinginan lo. Apakah pemerintah akan mengikuti pola pikir gue? Hell, no fucking way. We need to reboot the whole system and start over. That's it.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang begitu poinnya.

      Hapus
    2. Reboot oke. Tapi enggak whole juga. Gak segampang itu. Soal pemerintah, soal negara, nggak sesimpel restart laptop dan mulai lagi. Liat apa yang udah pernah dilewati juga. Nggak semuanya gagal.

      Hapus
  3. Kangen diskusi, Bang. Cuma seringkali beda persepsi, jadi memilih untuk menjadi pemerhati saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, bukannya diskusi diadakan untuk memungut berbagai persepsi yang berbeda? Lagi pula tujuan utama diskusi bukan untuk memenangkan opini pribadi atau menjatuhkan opini lawan, melainkan mencari pemahaman bersama. Toh, diskusi bukan lomba cerdas cermat. Hahaha.

      Hapus
  4. Iya bener juga sih. Mungkin yang paling merusak adalah kesotoyan kita sendiri. Goks emang bapak gigip ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari angkat gelas dan bersulang, Pak Adi.

      Hapus
  5. Dulu gue banyak dicerca temen-temen SMA dan SMP ketika akhirnya kuliah di jurusan politik (Ilmu Pemerintahan). Kata mereka, "aku benci politik, kok bisa-bisanya sahabatku masuk jurusan itu?!"

    Sebelum kuliah, jujur, gue benci juga yang namanya pemerintah, anggota dewan, dan mereka-mereka yang punya kuasa tapi 'terihat' bodoh dengan kuasanya. Tapi setelah sedikit belajar, gue buka mata dan "hey jadi kepala keluarga di rumah segede Indonesia ini gak gampang. Mari sama-sama benahi dan lanjutkan apa yang sudah berhasil."

    Gue lebih liat ke sisi baiknya sih. Karena, man, jadi pemimpin itu gak gampang. Banyak banget pertimbangannya ketika memutuskan sesuatu.

    Ya begitulah... Komentar gue panjang, maap. wkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus sih sekarang banyak yang melek politik.

      Karena politik dibutuhkan di sektor apa pun. -temen gue, jurusan teknik mesin

      Hapus
    2. Itulah salah satu persoalan terbesar kita di negara ini. Kita belum terbiasa melakukan kerja-kerja kecil bersama-sama, sehingga kesulitan melakukan gerakan besar bersama-sama. Revolusi? Aduh, menyikapi perbedaan pendapat saja kita masih kaku. Jadi, ya, begitulah.

      Omong-omong, semoga ilmu yang dipelajari di tempat kuliah bisa bermanfaat untuk publik, Far! Sukses selalu!

      Hapus
  6. Salam kunjungan dari Malaysia :)

    BalasHapus
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)