Sampai Hari Ini Hujan Masih Air

Surat dari Makassar untuk Jakarta.

gigip andreas - sampai hari ini hujan masih air

Warna pelangi utuh tujuh, pohon jambu tetap tumbuh, tukang tambal ban juga buka seperti biasa, dan segelintir hewan melata yang bisa bicara bahasa manusia belum mau keluar dari tempat persembunyian mereka. Intinya, dunia baik-baik saja.

Ya, dunia memang baik-baik saja, tetapi tidak dengan diriku. Kemarin malam aku mendapat kabar, kau akan menikah dengan Adam atau Ahmad atau siapalah nama pria itu aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku mendengarnya dari temanku, teman kau juga.

“Dua bulan,” kata Mia, “tapi dia sendiri baru tahu minggu lalu.”

Aku punya sepuluh juta pertanyaan, terutama soal dua bulan usia kandungan kau di luar pernikahan, tetapi aku diam. Aku tidak tahu harus mulai dari pertanyaan mana karena semuanya serentak mendesak minta dijawab.

Tetapi apalah gunanya jawaban jika pada akhirnya kau menghilang? Kau akan jadi istri orang, sedangkan aku lelaki menyedihkan yang berdiri di tepi jurang kewarasan. Mungkin cuma ini yang tersisa: berapa harga sebuah bahagia? Alangkah mahal sampai nyaris satu tahun menderita pun masih belum cukup untuk membelinya.

Sudah sebelas bulan aku tidak mendengar suara kau. Sebelas bulan pula kau menjelma menjadi hantu yang merusak pola tidurku. Kadang kala aku terbangun pada pukul tiga pagi, sering kali aku terjaga di depan televisi yang menyala hingga dini hari.

Lantas suatu malam, seseorang mengetuk pintu rumahku untuk memberi kabar yang lebih buruk dari mimpi apa pun yang telah kulewati: undangan pernikahan yang samar-samar terdengar seperti seruan untuk jangan pernah tidur lagi. Atau mungkin sebaliknya, tidur saja selamanya. Nidera!

Mia menatapku. “Lusa. Mau datang?”

Aku diam.

Aku diam dan sekian menit kemudian dia pamit setelah bilang, “Konon di alam kubur ada banyak orang mati yang berharap hidup lagi. Kau jangan ke sana, jangan sekarang.”

•       •       •

Di kamarku masih ada sisa-sisa bayangan kau. Di kasurku yang seprainya sering berantakan, kasur yang pernah menjadi tempat kau memeluk tubuhku dan kita berciuman lama sebelum kau pulang, masih berserakan puing-puing kenangan yang selalu menolak hilang.

Kau memblokirku di Facebook, tetapi sembilan belas foto kau yang terbengkalai di meja kamar masih betah dalam bingkai. Sementara segala sesuatu tentangku di kepala kau mungkin sudah lama mati menjadi bangkai.

Pada beberapa malam ketika membayangkan wajah kau dan euforia kisah lama kita, pikiranku selalu tertuju pada satu momen tengah malam. Itu tiga setengah tahun yang lalu, sesaat sebelum kita berpacaran.

Hari itu kau dirawat di rumah sakit. Aku di kamar menunggu kabar sambil diselimuti rasa khawatir. Pukul dua malam, akhirnya aku mendapat pesan dari kau dan kemudian suara kita bertemu di telepon.

Separuh rasa gelisah yang menyerangku sepanjang waktu mulai mereda seiring mendengarkan kau bercerita. Tentang dokter yang kau bilang wajahnya mirip Tora Sudiro; ruang operasi yang hening dan menakutkan; kau panik saat hendak disuntik sambil susah payah menahan pipis.

Kita berhenti bicara setelah kau tiba-tiba menjadi tukang sulap yang mampu membaca pikiran orang lain.

“Tapi aku benar, ‘kan? Aku tahu kamu menyukaiku.”

“Sejak kapan kau jadi dukun?”

Kau tertawa. “Sudahlah, mengaku saja!”

“Baiklah,” jawabku, “aku menyukaimu. Juga jatuh cinta kepadamu.”

Kau diam, entah memikirkan apa. Di antara jeda lengang yang panjang dan suara jarum jam yang pelan, sayup-sayup telinga kananku bisa menangkap napas kau yang teratur. Diam-diam aku meniru, supaya irama napas kita bisa menari.

Lima belas menit lagi pukul empat pagi. Kau kembali bicara setelah dua menit berpikir. Dengan nada pelan kau bilang, “Kita beda kota.” Kau memberi jeda sekitar lima detik. “Rencananya tahun depan aku mau kuliah di Makassar, tapi itu masih delapan bulan lagi.”

Malam itu kau bicara di rumah sakit di Jakarta, sedangkan aku di Makassar membiarkan kau menyelesaikan perkataan yang terbata-bata.

“Selama delapan bulan itu, kamu bisa pacaran jarak jauh?” kau bertanya dengan nada penuh ragu. “Kita bahkan belum pernah bertemu.”

Kau benar. Kita saling kenal lewat Facebook, belum pernah sekali pun bersemuka, dan delapan bulan itu memang waktu yang sangat lama. Namun kau harus setuju bahwa batas terjauh yang memisahkan dua orang bukanlah jarak spasial, melainkan rasa percaya. Aku ingin menembus batas itu bersama kau.

“Hei,” kau berbisik. “Karena kita jauh, aku punya satu permintaan.”

Ketika kutanya apa yang kau mau, kau menjawab dengan suara seperti sedang dehidrasi. Bicara kau pelan, serak, dan terdengar agak pedih. Kau bilang, “Pinjamkan aku bahumu setiap kali aku sedih. Kamu mau, ‘kan, selalu ada buatku?”

Kau meminta sesuatu yang sederhana tetapi sulit kuwujudkan. Ternyata benar kata isi kitab, menjadi manusia memang merepotkan; terjebak di antara kemauan yang lapang dan kemampuan yang dangkal. Bagaimana cara aku terbang ke Jakarta setiap kali kau dilanda kesedihan?

Rasanya aku ingin mengutuk harga tiket pesawat yang luar biasa mahal dan diriku sendiri yang terlampau miskin. Aku sudah menyimpan perasaan ini selama dua bulan, tidak mungkin aku menunggu delapan bulan tambahan.

“Tapi,” kataku, “itu hal yang sulit. Lagi pula aku tidak kuat berenang menyeberang pulau.”

Kau memberi jeda sebentar. “Lalu?”

“Begini saja, sebab aku tidak bisa selalu ada setiap kali kau merasa sedih, akan kulakukan satu hal sebagai gantinya.”

“Apa?”

“Kubuat kau tertawa setiap hari. Aku akan menulis dan membacakan cerita-cerita menarik lewat telepon hanya untuk kau. Setiap hari, setiap pagi, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi.”

Kau masih ingat percakapan bodoh itu? Ya, aku naif dan terlalu heroik—keangkuhan paling liar yang pernah terlontar dari mulutku. Nyatanya utopia itu gagal kutepati. Aku juga tidak mampu membuat kau mau bertahan bersamaku sedikit lebih lama lagi.

Kenapa waktu itu kau pergi? Ke mana kau pergi? Aku selalu membayangkan akan ada hari kau kembali. Namun, harapan itu kini sudah mati.

•       •       •

Akhirnya tibalah hari kau menikah, memulai hal-hal baru dengan seseorang yang juga baru. Mungkin ini akan menjadi hari pertama dan terakhir bagiku untuk bisa melihat kau setelah sebelas bulan menjadi hantu.

Tetapi aku tidak mau datang. Aku terlalu takut jatuh ke lubang yang jauh lebih dalam. Aku memilih mampir ke warung kue balok tempat dahulu kita sering berpacaran, mencoba merayakan hariku sendiri sambil mendoakan kau diam-diam.

Bahkan setelah hampir satu tahun, tempat itu tidak banyak berubah. Dindingnya masih sama, meja dan kursi juga sama, ubin-ubin retaknya pun tetap sama. Barangkali cuma kehadiranku yang berbeda, sebab hari ini kau tak ada.

Masih ingat Bi Elis? Pemilik warung kue itu menitip rindu untuk kau. Dia bertanya kau ke mana, tetapi aku tidak sanggup menjawab dan hanya bisa memberi senyuman paling tulus yang mampu aku gapai. Sementara itu kepalaku sibuk membayangkan berbagai macam kemungkinan.

Sambil menikmati kue balok dan susu cokelat kesukaan kau, aku mendengar suara air di luar mulai berjatuhan. Aku duduk, sendirian, tepat di tempat dua tahun lalu kau pernah bilang, “Bahkan jika suatu hari nanti langit menurunkan hujan besi atau batu, aku akan tetap mencintaimu.”

Tetapi sampai hari ini hujan masih air, dan kau sudah menikah dengan yang lain.

Tambahkan Komentar

20 Komentar

  1. Anjaaayyy.. sadis ini ceweknya. pamit dengan kalimat bahwa di kuburan penghuninya ngarep begitu.

    Ini bagus, sih, penceritaannya. Menurut saya yang nggak kompeten amat dalam fiksi, komposisinya nggak berlebihan, nggak diganggu juga ama lelucon paksaan, hal-hal yang menurut saya lucu dalam kisah yang diceritaknnya lebih ke membuat senyum kecut. itu mendukung.

    Lalu sampai akhir, saya juga jadi punya banyak pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi, kenapa pergi, siapa yang "ngisi". Ya, walo sebaiknya nggak usah dijawab, sih, ini. Cukup ceritanya begini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. I wish I can pin this comment. Thanks, Haw!

      Hapus
    2. Are you calling for Disqus? :P

      Hapus
    3. Sebetulnya fitur Disqus itu canggih-canggih, saya akui, tapi bikin pemuatan laman jadi agak berat. Mungkin akan saya pakai pada waktu yang lain dan juga di platform yang lain. :P

      Hapus
    4. Menurut saya porsinya udah pas karena difokuskan buat satu orang dan semacam menulis surat. Kalau emang mau ditambah sama kisah pengisi hatinya yang baru atau partner menikahnya, jelas akan melebar dan perlu penyesuaian alur.

      Hapus
    5. Iya. Dan karena main PoV 1, ternyata godaan untuk “curhat” itu memang luar biasa, ya! Untung masih bisa tarik rem. Haha.

      Hapus
  2. Ikut sedih ..., kerasa sampai sini luka hati yang dirasakan.

    Entah karena rangkaian kalimat yang Gigip bikin, atau karena ...,kejadian seperti itu pernah kualami.

    BalasHapus
  3. Ya masa hujan jadi daun :( hahaha

    emang katanya sih, yang setia akan kalah sama yang lebih menarik, yang selalu sedia juga. eh atau ini curahan kaum ldr? :"

    baru tau ada istilah Nidera!

    BalasHapus
    Balasan
    1. “Aku tidak pernah kalah. Aku menang atau belajar,” kata Mandela.

      Hapus
  4. Gue baca fiksi ini kayak sekaligus baca puisi. Goks! Terusin.

    BalasHapus
  5. Wihh bagus. Betewe, kue balok itu kue apa sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kue manis yang sempat viral dua tahun lalu. Coba, deh, enak banget!

      Hapus
  6. Makin bagus aja tulisannya, Gip :)

    BalasHapus
  7. Hal sedih dituturkan dengan cantik sekali. Pedih tapi mempesona. Kubaca lebih dari sekali saking sukanya, meski tiap dibaca lagi ngilunya ngga berkurang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih karena sudah baca lebih dari satu kali, Rosita.

      Hapus
Emoji