Meminjam Telinga Fajar Senjaya

Semacam cara terapi di tengah pandemi.

Gigip Andreas - Meminjam Telinga Fajar Senjaya

Fajar Senjaya, salah satu pria paling filantropis yang hatinya selembut buih soda Coca-Cola dan serapuh birokrasi negeri kita, merupakan sebaik-baiknya sosok yang perlu ada di berbagai media. Melalui akun Instagram pribadinya, ia kerap membagikan kisah-kisah sensasional yang sanggup mengiris-iris hulu hati dan mengubek-ubek imajinasi.

Bukan cuma konten Instagram-nya yang eksentrik. Sikap dan sifatnya juga ciamik. Bak orang saleh yang menyebarluaskan dasatitah untuk memerangi kebodohan, Fajar pun main Instagram sambil mengamalkan sedikitnya tujuh teladan. Enam teladan pertama tidak penting, satu yang terakhir patut ditiru: belajar mendengarkan.

Hampir semua kisah sensasional yang ia bagikan adalah cerita nyata dan sebagian besar berasal dari penggemarnya. Ia memberi akses kepada para penggemar yang ingin berbagi pengalaman lewat pesan langsung (direct message) di Instagram, dan penggalan-penggalan obrolan itu yang nantinya akan ia kemas menjadi konten yang aku maksud di awal.

Mendengarkan keluh kesah, kita tahu, jelas bukan perkara mudah. Apalagi kalau bentuknya berupa teks dan dilakukan nyaris setiap hari. Selain harus mencerna kata dengan teliti, kegiatan ini menguras pikiran dan kesabaran dan energi dan emosi yang cukup tinggi. Maka terpujilah Fajar Senjaya sebagai sosok yang rela mendedikasikan separuh waktunya guna menjadi penyedia layanan deep talk, di tengah-tengah kerumunan masyarakat urban yang kian hari kian mendewakan egoisme.

Egoisme, menurut Aan Mansyur dalam esainya yang terbit lima tahun silam, merupakan ciri dari kegagalan abad introspeksi. Itu adalah masa ketika kita menghabiskan banyak waktu cuma demi memuaskan keinginan batin, harapan, dan mengejar status-status pribadi. Dan era introspeksi adalah kesalahan, kata Roman Krznaric, seorang filsuf dari Australia yang menulis The Wonderbox: Curious Histories of How to Live (2011) dan Empathy: Why It Matters, and How to Get It (2014).

Kamu mungkin jarang memperhatikan, tetapi Twitter adalah media sosial yang baik sekaligus media antisosial yang menarik untuk mengamati perilaku para penyembah egoisme. Di sana kita bisa dengan mudah menemukan banyak orang yang gemar menjelaskan dirinya sendiri, tetapi pada saat yang bersamaan sukar mendengarkan penjelasan dan pandangan dan kritikan atas suatu pemikiran dari orang lain. Pertanyaannya, kenapa mereka begitu?

Lebih dari 150 tahun yang lalu, lewat bukunya The Art of Being Right: 38 Ways to Win an Argument, Arthur Schopenhauer mengatakan saat menyadari pendapat kita berbeda dengan orang lain, reaksi pertama yang kita lakukan ialah menganggap orang lain keliru, bukan mencari kesalahan dalam proses berpikir kita sendiri. Dan sebaliknya, ketika kita menemukan pendapat yang sejalan, meskipun itu melenceng, kita akan dengan senang hati mengamininya.

Itu sifat alami manusia. Sesuatu yang wajar. Tidak perlu dikhawatirkan. Toh, sejak kecil, termasuk dan terutama di sekolah, kita memang dibentuk untuk menjadi makhluk yang meyakini bahwa segala sesuatu harus dimenangkan lewat jalan kompetisi, bukan kooperasi. Kita harus bersaing. Kita harus selalu lebih unggul dari yang lain.

Apabila kamu mengangguk untuk apa-apa yang ada di alinea sebelumnya, boleh jadi kamu termasuk masyarakat urban yang menyembah egoisme dan belum mengikuti teladan terakhir Fajar Senjaya.

•       •       •

Kenapa ada banyak orang yang memilih enggan mendengarkan? Itu persoalan pertama yang mengganggu kepalaku setelah membaca cerpen “Peniup Seruling Gaib” (2014) bikinan Agus Noor. Perkara kedua berkaitan dengan tulisan Fajar yang kujadikan featured image di awal catatan.

Aku punya teman yang tampaknya menganggap perempuan hanya sebatas objek seksual. “Lihat,” katanya sambil menyodorkan layar ponsel dan menunjukkan foto seorang gadis yang jelas-jelas bukan pacarnya. “Saya hebat, ‘kan? Bisa tiduri perempuan ini.”

Sebagai orang yang tak terlalu kompetitif, aku tidak tahu apa yang menarik dari berhasil meniduri banyak wanita, selain mungkin mendapatkan sensasi dan kepuasan yang berbeda. Yang aku tahu, sebuah penelitian di Finlandia menyatakan bahwa orang dengan kecerdasan di bawah rata-rata cenderung sukar untuk setia.

Aku lebih sepakat dengan Fajar. Barangkali itulah kenapa aku dan pacarku harus berdebat beberapa waktu lalu. Dia bersikeras memegang prinsip bahwa jika nanti kami menikah, ketika dia sedang tidur dan aku ingin bersanggama, aku boleh melepas celana dalamnya dan menyetubuhi dia sesuka hati. Itu bagian dari tugas seorang istri untuk selalu sedia melayani suami, katanya.

Ada dua kemungkinan: dia berusaha menjadi wanita saleh yang menaati dogma yang diimaninya, atau itu cuma modus supaya aku mau segera melamarnya. Aku lebih percaya pada kemungkinan yang kedua.

Bukan tawaran yang buruk, sebetulnya. Para lelaki yang mendukung patriarki dan membenci Tunggal Pawestri barangkali akan mengatakan betapa aku lelaki beruntung. Tinggal menunggu sampai aku diizinkan berpoligini, lengkap sudah kenikmatan duniawi yang kumiliki.

Baiklah, kita bisa berdebat panjang soal relasi kuasa hubungan pernikahan, tetapi itu akan kita lakukan pada waktu yang lain dalam pembahasan yang juga lain. Untuk sekarang, hal yang ingin aku tekankan ialah bagaimana kami memiliki porsi yang setara untuk berbicara, mendengar, dan berkompromi. Sebab hubungan yang sehat adalah hubungan yang di dalamnya terjalin komunikasi.

Relasi kuasa yang berjalan timpang bisa membuat kita buta akan pentingnya timbal balik. Kita akan cenderung abai pada berbagai cacat serius karena tidak tahu atau tidak mau tahu terhadap apa-apa yang terjadi di lain sisi. Dan ini bisa diperparah kalau ditambah pula dengan tidak sadar privilese.

Sebagai contoh: pernah mencari tahu mengapa suara Papua di media-media arus utama di Indonesia selalu kalah dominan oleh Jakarta?

•       •       •

Pada 1852, seorang perempuan kulit putih dari keluarga kaya raya, terpelajar, dan alim, menerbitkan sebuah novel yang menentang perbudakan. Novel itu dirilis ketika orang-orang kulit hitam dianggap ras manusia paling rendah dan lumrah untuk dijadikan pelayan. Dalam sepekan pertama, novel itu terjual sebanyak 10 ribu eksemplar dan menjadi salah satu buku paling berpengaruh di dunia. Nama penulisnya: Harriet Beecher Stowe.

Stowe mungkin bukan pengarang pintar. George Orwell bahkan menyebut Uncle Tom’s Cabin sebagai “novel buruk nan baik” karena yang berharga dari novel itu bukan prestasi sastranya. Namun, di luar semua olok-olok terhadap novelnya, Stowe terbukti berhasil merobek hati para pembaca dan memicu perang besar yang berujung memerdekakan anggota masyarakat kelas paling tertindas.

“Dongeng memang selalu menjadi racun,” tulis Eka Kurniawan di novelnya yang keempat.

Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari Stowe. Salah satu yang terpenting adalah menyadari privilese diri sendiri demi menolong, menyelamatkan, dan berempati kepada sesama manusia, terlepas dari perbedaan pandangan sosial-politik dan berbagai identitas yang melekat dalam diri mereka.

Apabila menurutmu membaca novel asing yang usang hari ini merupakan tindakan ganjil, barangkali kisah-kisah sensasional di akun Instagram Fajar Senjaya bisa menjadi alternatif lain.

Sebagai penutup, ketika aku menulis catatan ini, dunia sedang merayakan Hari Buruh Internasional. Menurut Wikipedia, Hari Buruh lahir dari rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis dan hak-hak industrial. Pada saat yang sama, di berbagai kota di Indonesia, ada banyak orang yang sedang berkeluh kesah di Twitter karena kebutuhannya tidak pernah sampai ke telinga para petinggi negara.

Yang aku khawatirkan jika dugaan temanku ternyata benar. Di tengah segala keruwetan akibat wabah virus korona ini, dia bilang, bisa jadi orang-orang lebih butuh layanan deep talk ketimbang program Kartu Prakerja.

Tambahkan Komentar

10 Komentar

  1. Hai, Kak Gigip. Salam kenal sebelumnya. Sepertinya ini pertama kalinya saya mamplr kesini dan langsung disuguhi tulisan ciamik mengenai Hari Buruh yang berlandaskan soal mendengarkan.

    Saya kurang lebih setuju dengan apa yang dituliskan Kak Gigip. Di luar daripada topik Hari Buruh yang selalu saja jarang saya ikuti, kecuali gara-gara gebetan saya adalah jurnalis politik, saya hanya tahu sedikit soal bagian itu. Ya bisa dibilang saya agak apatis soal itu. Tapi akan tetap menyimak meski tidak dengan menyuarakan.

    Melayani deep talk untuk banyak orang seperti Fajar Senjaya (yang jujur saja saya baru tahu), tentu melelahkan sekali. Dituntut untuk fokus bahkan untuk cerita-cerita dari orang tidak dikenal. Kalau saya pribadi, mungkin akan langsung melambaikan tangan alias tidak sanggup. Meladeni 1-2 orang bercerita deep talk secara bersamaan saja kadang saya pecah fokus. Tapi saya suka sekali mendengarkan. Bukan cuma soal apa isi ceritanya, tapi soal kepercayaan yang mereka buat terhadap saya.

    Mungkin saya dan beberapa orang lainnya harus mengamini kalo no response is response. Dalam arti lain, kalo ada yang lagi cerita tentu kita akan bisa bertanya, dia butuh saran atau butuh hanya didengar? Sampai akhirnya kita bisa menentukan apa sikap selanjutnya. Saya seringkali hanya jadi pendengar, lalu memberi respon dengan hanya melakukan sentuhan fisik seperti mengelus punggung/bahu atau memberi tanggapan-tanggapan singkat karena saya pikir respons semacam itu sudah cukup daripada saya memberikan tanggapan panjang lebar yang nantinya malah mengubah fokus cerita utama. Karena lagi-lagi mungkin tujuan saya adalah hanya mendengarkan, bukan memberi tanggapan.

    Maaf ini jadi kepanjangan. Tapi karena capek ngetik yaudah post ajalah. Makasih, Kak Gigip. Sehat selalu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Tiwi. Salam kenal. Sepertinya kita seumuran, meskipun saya curiga usia saya beberapa tahun di bawahmu.

      Negara ini butuh lebih banyak orang-orang sepertimu. Orang yang mau mendengarkan tanpa tendensi berceramah. Semoga bisa tetap jadi pendengar, ya.

      Terima kasih kembali, Tiwi. Sehat selalu!

      Hapus
  2. Tetapi menikah tidak hanya sebatas itu itu aja sih, kalo aku nonton film yang sedang tren di kalangan emak emak milenial sekarang yaitu: The World of Married ini persis banget sama cerita mu ini gip. Jadi ada suami yang sudah punya istri tapi ia malah mendua dengan yang lain.

    Tpi ia tetap mencintai istri dan anaknya, bahkan kalau disuruh memilih dia tidak ingin kehilangan keduanya, ia mencintai istri dan pelakornya ini. Dan lagi lagi hanya karena kepuasan seksual saja, hampir keseluruhan cerita isinya ++ hha.

    Eh, blog mu baru lagi ya.. dari blogspot lalu ke medium terus abis medium kemaren wordpress sekarang disini yang seingetku.. Mantep nih yang sekarang, lebih simple banget, suka suka..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertanyaannya: kenapa Anda menonton film yang sedang tren di kalangan mak-mak?

      Oke, urusan itu kita bahas lain waktu.

      Ehm.

      Iya, Ndri. Tahun lalu saya pakai Medium karena desainnya bagus banget. Sayangnya platform ini agak minim fitur. Akhirnya saya balik lagi ke Blogger setelah nemu desain yang ideal. Ini belum mirip banget, sih, dengan bentuk di kepala saya, tetapi cukup mendekati.

      Jadi, ya, gitu, deh. Hehe.

      Hapus
    2. Hhha penasaran aja sih, rame banget soalnya di facebook, twitter, instagram whatsapp blogger, dan lain sebagainya. Semua perbincangan tentang itu aja, sampe bosen ak dengernya. Karena rasa penasaran itu akhirnya coba searching dan nonton sampe eps. 6, DAN TERNYATA... oh jadi gini. OK OK stop.

      hmm..

      Ak suka sih desain yang kayak gini, lebih simpel dan ga neko neko kalo orang jawa bilangnya. Tapi kalau udah urusan template pengennya sih di redesain yang sesuai keinginan hha.. gatel bung.

      Hapus
    3. The World of Married itu bikin paranoid, haha. Ya nggak tau yah, mungkin cuma aku aja. Tapi karena terbiasa dengan keributan yg terjadi di keluarga sendiri, dapat tontonan serial korea itu bikin parno-ku makin menjadi-jadi. Pertama karena pesaran, eh keterusan karena geregetan, haha. Tapi sekarang udah gak nonton lagi. Bikin sakit dada. Lama-lama nanti jadi bengek😣

      Jadiiiiiii udah berapa lama aku nggak main ke sini yaaaa????

      Hapus
  3. Buka akun hampirfajar, ngeliat ga ada sirkelku yg follow dia, lalu scroll konten2nya, dan saya jujur ga tertarik hehe maaf.

    Soal komunikasi (bukan hanya deep talk) dan consent, emang penting dalam tiap hubungan. Kenapa soal "tidur boleh diapa-apain" itu ga didiskusiin lanjut dengan baik2? Kenapa langsung ngambil konklusi cuma dua kemungkinan itu, dan seakan2 ngerendahin pacarnya? Ada loh, yg masochist, eksibis, bdsm, dan ragam seks nyeleneh, tapi kalau ngomong di awal secara jelas, kedua pihak sepakat, itu udah consent.

    Ini sebenarnya bahan pikiran saya juga, ketika udah terjebak ngaku progresif, sering ngerendahin orang2 yg masih konservartif. Bukannya coba "mendengarkan" dan secara asertif ngebuka jembatan komunikasi. Saya juga masih ada di fase2 ini sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa tidak didiskusikan lebih lanjut, karena dia tidak mau membahasnya dan menutup obrolan kami dengan dalih ajaran agama. Dia bilang, “Ya, memang begitu dari sananya.” (Makanya saya sebut dia menaati dogma, dan saya berusaha menghormati, tidak mau memaksakan nilai yang saya yakini).

      Kenapa saya bilang cuma modus, karena saya tahu sebetulnya dia tidak taat-taat amat dalam beragama, dan itu bukan masalah. (Kami pacaran sejak 2011 dan Bung bisa bayangkan berapa banyak “dosa” yang pernah kami lakukan bersama).

      Bahwa kami punya banyak perbedaan prinsip dan pandangan, itu betul. Dan saya tidak keberatan dengan itu, pun tidak merasa perlu menceramahi dia hanya karena saya “progresif”. Apa yang bisa saya lakukan saat nanti kami menikah, ketika dia sedang tidur dan saya ingin bersanggama, meskipun dia sudah memberi consent, saya tidak akan menyetubuhi dia. Itu kompromi saya terhadap privilese yang dia beri.

      Di luar itu, saya akui ada banyak celah dalam tulisan ini, dan saya senang karena Bung mau mengkritisi ruang tersebut. Terima kasih.

      Hapus
  4. Sek kasih bintang lima dulu

    Aku langsung suka paparan tentang dogma pernikahan terutama relasi laki laki dan wanita. Ini yang juga jadi bahan perbedaan pendapat antara aku dan calon. Aku juga ingin kompromi tetap jadi hal yang diutamakan saat ini karena ini menyangkut prinsip yang jadi ruh pernikahan.

    Bagaimanana bisa saling mendengar dan didengar

    Nyatanya walau terlihat mudah ini sungguh sulit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya doakan semoga kelak Mas Ikrom dan calon istri akan menjadi keluarga harmonis dan memiliki rumah yang selalu dipenuhi kebahagiaan.

      Salam untuk calon istrinya, Mas.

      Hapus
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)