Mari Lawan Infodemi di Tengah Pandemi

Harapan, dari dekat.

melawan-infodemi-di-tengah-pandemi

Pada pertengahan Februari lalu, Tedros Adhanom, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan, “Kita tidak hanya melawan epidemi, kita juga melawan infodemi.”

Infodemi, kata yang dipilih Adhanom, bisa diartikan sebagai banjirnya informasi—baik fakta maupun bukan—yang membuat orang-orang kelimpungan mendapatkan sumber dan panduan terpercaya. Infodemi inilah yang turut membikin penanganan wabah SARS-CoV-2 menjadi lebih ruwet ketimbang SARS (2003), H1N1 (2009), MERS (2012), dan Ebola (2014) ketika penyiaran berita serampangan belum segampang dan selapang hari ini.

Sialnya, apa yang dibilang Adhanom adalah betul. Menjelang pekan ketiga pada April lalu, Johnny G. Plate, Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia, mengabarkan ada 554 isu hoaks yang tersebar di tengah pandemi COVID-19. Masih menurut Johnny G. Plate, hoaks mengenai virus korona rupanya paling banyak tersebar melalui WhatsApp. Itu berarti, mengingat kesenjangan digital di Indonesia 4.0 ini masih sangat tinggi, jika orang tua Anda cenderung hanya memakai WhatsApp sebagai sarana bertukar informasi, mereka mungkin termasuk kalangan yang paling rawan dan rentan termakan disinformasi.

Padahal pada masa pandemi seperti ini kita semua butuh informasi mutakhir dengan cepat dan akurat. Anda tahu separah apa dampak dari kabar yang kabur dan berita yang simpang siur?

Data COVID-19 Indonesia per 13 Juni 2020
Data kasus COVID-19 di Indonesia per tanggal 13 Juni 2020. | Sumber: kawalcovid19.id

Saya pertegas, tiga puluh tujuh ribu empat ratus dua puluh itu bukan sekadar deretan angka biasa, itu nyawa manusia yang sangat berharga. Dan data di atas bisa muncul bukan karena kaum buruh kasar buta huruf tidak mau #DiRumahAja. Tidak sesederhana itu, Kamerad.

Banyak yang bilang, kini kita hidup pada era ketika masyarakat tidak lagi berpikir dan bergerak berdasarkan akal sehat, melainkan sentimen dan kepercayaan belaka. Orang-orang menamai fenomena ini dengan sebutan pascakebenaran (post-truth), sebuah istilah yang terdengar ngeri-ngeri sedap tetapi mengandung ambiguitas besar. Pascakebenaran memberi pemahaman bahwa pernah ada suatu masa ketika fakta mendominasi informasi, atau pendeknya, pernah ada era kebenaran.

Bila sebetulnya era kebenaran itu pernah terjadi?

Belum pernah. Era kebenaran belum pernah terjadi, bahkan sejak Azazil menyampaikan hoaks pertama kepada Adam perihal khasiat buah khuldi.

Fakta lainnya, sudah bukan menjadi rahasia bahwa internet memiliki kemampuan untuk mencabut dada dan kepala para penggunanya. Dan internet sangat terampil untuk urusan itu. Agar tidak merasa kemalingan saat dada ditumpas, kepala kita dijejali berbagai macam persoalan; supaya tidak merasa kehilangan kala kepala ditebas, dada kita dipadati beraneka ragam perasaan. Hasilnya, jagad internet akan dipenuhi dua kelompok manusia: mereka yang berkepala besar tetapi berdada kopong, dan mereka yang berdada lebar tetapi berkepala kosong.

Tetapi percayalah, serangkaian informasi barusan saya sampaikan bukan untuk membuat Anda semakin murung, melainkan sekadar pengingat akan satu hal fundamental: meskipun pandemi memaksa kita jadi lebih sering menutup pintu, bukan berarti kita harus turut menutup mata.

Omong-omong, apa, sih, yang berbahaya dari pandemi COVID-19 ini? Tepat, ia tidak cuma membunuh manusia.

Koronavirus bisa membunuh ekonomi: riset yang diterbitkan di The Conversation pada Mei lalu menunjukkan bahwa tanpa intervensi, COVID-19 akan membuat setidaknya 3,6 juta orang Indonesia jatuh miskin. Bisa membunuh empati: survei yang dilakukan oleh Komnas Perempuan (April—Mei 2020), membuktikan bahwa pandemi membuat perempuan kian sering mengalami kekerasan. Pun bisa membunuh mental: seorang psikolog klinis dari Yayasan Pulih, Gisella Tani Pratiwi, mengatakan, “COVID-19 memang memicu ketidakseimbangan kesehatan mental yang hampir dialami semua orang.”

Setelah mengetahui kenyataan di atas, apa yang tidak bisa kita perbuat? Banyak. Tetapi, apa yang bisa kita perbuat? Banyak juga. Langkah pertama yang bisa diambil: merebut kembali dada dan kepala kita dan menjaga keduanya tetap ada di tempatnya.

•       •       

Kevin Roose bilang pendemi ini membuat internet seakan kembali berfungsi seperti ketika ia pertama kali diciptakan. Orang-orang menggunakan media sosial untuk tetap saling terhubung, berbagi informasi dan sumber daya, serta merancang solusi kolektif untuk berbagai masalah yang mendesak.

Itu sebuah ajakan—atau harapan—dari dekat. Dan sudah banyak yang bergabung. Untuk mengatasi ancaman mental, Kemenkes, bersama Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), pada pangkal April lalu meluncurkan layanan konseling kesehatan mental gratis bernama Sehat Jiwa. Untuk memerangi hipotesis konspirasi, Antinomi Institute, sebuah komunitas ilmiah interdisipliner (sains, filsafat, dan agama), pada April dan Juni menerbitkan dua buku elektronik yang bisa diunduh secara cuma-cuma.

Untuk membantu korban yang mengalami kekerasan seksual di rumah, Koalisi Ruang Publik Aman dan segenap keluarga besar netizen budiman membuat Gerakan Sinyal Tangan. Untuk membantu kawan-kawan yang mengalami kesulitan finansial, ada banyak orang (termasuk media warga) yang melakukan beragam cara: memesan GoFood buat sopir Gojek dan berbagi lowongan pekerjaan yang bisa dikerjakan secara daring, umpama.

Lalu apa yang kita—sebagai anggota masyarakat kelas menengah yang memiliki akses internet—bisa perbuat? Dalam tulisan bertajuk “Bagaimana Pandemi Mengubah Cara Kita Memanfaatkan Teknologi”, Raka Ibrahim bilang ada banyak hal yang bisa kita lakukan daripada yang kita kira. Dan itu bisa dimulai dari hal paling kecil, dari hal paling sederhana, dari apa yang kita punya.

Kita bisa mulai, misalnya, dengan lebih sering membaca dan menyebarkan informasi-informasi yang akurat, ketimbang sekadar menjadi pemandu sorak sebuah tweetwar para selebtwat. Pada tahap berikutnya, jika Anda senang menulis atau melukis, Anda bisa membuat berbagai kreasi untuk orang-orang terdekat. Anda bisa menyampaikan pelbagai ide dan gagasan yang mungkin akan membantu orang-orang menghadapi pandemi, sekecil apa pun itu, seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan dari Patron Syndicate. Kuncinya ini: era kompetisi sudah basi, sekarang saatnya membangun era kooperasi.

Anda bisa menyebarkan informasi di mana saja dan memanfaatkan platform apa saja. Facebook, Twitter, Instagram, Spotify atau Google Podcasts, YouTube, dan seterusnya dan sebagainya. Namun, jika Anda membutuhkan medium yang lebih multifaset dan mampu menampung beragam jenis fail, sebaiknya Anda memilih blog/situs web pribadi.

Apabila Anda tertarik membuat blog/situs web pribadi, untuk mendukung optimasinya (guna menghindari blog yang lelet dan susah diakses), Anda bisa menggunakan layanan domain dan hosting murah dari Qwords. Caranya pun sangat mudah, tinggal cek domain dan memilih kapasitas hosting yang paling ideal sesuai kebutuhan, dan simsalabim, maka jadilah jadi. (Penjelasan lebih lanjut tentang domain dan hosting bisa Anda baca di laman ini.)

Sekadar info, blog ini juga memakai domain dari Qwords. Pun saya sudah menggunakan Qwords sejak 2017 untuk blog yang lain. Apa yang saya suka dari penyedia ini adalah kemudahannya dalam pengoperasian, kestabilannya dalam jaringan, serta ketersediaan layanan pelanggan yang selalu siap mendengar “halo, saya butuh bantuan!” selama 24 jam/hari. Tambahan: Qwords kerap bagi-bagi diskon untuk para pelanggannya.

Kita mungkin bukan ahli kesehatan, tidak terlalu paham dunia sains, dan cuma orang biasa yang punya banyak waktu luang untuk berselancar di internet. Tetapi itu bukan berarti kita tidak bisa berkontribusi sama sekali. Meskipun dampaknya hanya sedikit, selama kita melakukan sesuatu demi kepentingan manusia sebagai spesies (dan bukan individu), setiap hal kecil yang kita lakukan tetaplah membantu.

Apakah dengan sekadar mewartakan informasi yang akurat sudah termasuk kontribusi? Iya, dan itu lebih revolusioner daripada menggembar-gemborkan kabar atau propaganda yang tidak kentara. Lagi pula, kalau hal itu kita lakukan bersama-sama, siapa tahu era kebenaran bisa betul-betul tercipta. Siapa tahu dunia utopia semacam itu memang ada.

Terlepas dari itu semua, seperti yang sempat saya singgung sebelumnya, kita bisa mulai dari yang paling sederhana. Sesederhana berbagi ruang dengan orang-orang yang suaranya memang patut didengarkan, atau membantu orang tua mengonfirmasi berita palsu yang mereka dapatkan di WhatsApp, atau menyebarkan tulisan ini jika menurut Anda bermanfaat.

Sebab, mengutip dan menyepakati Muhamad Heychael, “Di tengah pandemi seperti sekarang, kemampuan untuk memilah opini dari fakta, informasi dari disinformasi, bisa berarti menyelamatkan nyawa.” Dan bukan hanya nyawa Anda.

Tambahkan Komentar

24 Komentar

  1. Apakah kamu sudah menemukan cara untuk membuat dada dan kepala tetap di tempatnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain rutin menguji fakta dan berpikir kritis, saya kira membaca puisi (dengan beragam cara berbeda) cukup membantu. Semakin banyak sudut pandang yang kita gunakan saat membaca puisi, semakin banyak hal-hal baru yang bisa kita temukan dari sana.

      Hapus
    2. Busyet....saya pernah ikut kelas Anatomi. Baru kali ini saya mengetahui pertanyaan seperti ini. Luar Biasa

      Hapus
  2. Saya juga suka Qwords. Saya pelanggan setia Rumahweb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti kalau ada rencana buat hijrah, bisa kabari saya. Kita bincang-bincang santai sambil ngopi-ngopi syahdu.

      Hapus
    2. Bisa-bisanya hahahahahahahaha

      Hapus
  3. Banjir informasi apalagi banyaknya cuma misinformasi dan polusi notifikasi sumpah bikin pening. Selama pandemi buat ngatasin ini, saya mungkin kelewat fatalis, malah nonton ratusan episode anime buat nyetop biar ga terpapar informasi, apapun itu. Iri sama para kameradku yg tak pernah nyerah merjuangin wacana dan isu yg digelutinya.

    Gara-gara pandemi ini juga bikin saya jadi ingat kalau punya blog yg domainnya pake Qwords.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kini kita hidup di tengah ketersesatan bukan karena minim informasi, melainkan sebaliknya; banjir informasi. Dan saya, mau tak mau, jadi selalu memikirkan kata-kata si mahabijak James Gleick:

      “Ketika informasi menjadi murah, perhatian menjadi mahal.”

      Tetapi, memang adakalanya kita juga butuh hiburan dan liburan supaya tidak stres, Bung. Dan menonton film bisa menjadi salah satu sarana yang menyenangkan.

      Hapus
  4. Tapi Kamerad, ada pula manusia hybrid yang berdada kopong dan berkepala kosong. Gabungan dua jenis manusia internet di jagad internet seperti yang Anda sajikan. Bukannya membaca Antinomi dan artikel kredibel lainnya, mereka justru berlomba menghitung kenaikan jumlah kasus setiap harinya seperti taruhan picisan--dan abai bahwa itu adalah nyawa manusia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maka pertanyaannya, mengapa empati jadi kian langka?—atau siapa yang telah membikin kita berpikir bahwa fungsi uang itu cuma untuk memperkaya diri sendiri, dan bukan untuk meningkatkan kualitas hidup sesama manusia?

      Mari kita baca buku untuk menemukan jawabannya.

      Hapus
  5. Berarti infodemi di dalamnya bisa ada hoax macam di grup wa keluarga yha? :"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Oleh karena itu, mari kita saling jaga, dimulai dari lingkaran yang paling kecil.

      Hapus
    2. Kamerad itu siapa sih?

      Hapus
    3. Kamerad itu saudara separtai; teman seperjuangan.

      Hapus
  6. Ketika banjir informasi melanda salah satu wadah mereka yang senang menulis adalah kembali menuju blog. Membersihkan rumah yang sempat berdebu dan menata kembali sebagai tempat singgah guna meredakan keruwetan bangsat corona.

    Saya sangat setuju jika layanan Qwords selalu memuaskan pelanggan. Ter da best pisan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat. Saya juga lebih senang membaca tulisan panjang di blog daripada pecahan-pecahan pemikiran di Twitter, misalnya. Sebab tulisan panjang lebih jelas. Beda dengan pecahan-pecahan pemikiran, sering kali lepas dari konteksnya.

      Hapus
  7. Membantu orangtua mengonfirmasi berita palsu di grup WhatsApp adalah salah satu yang memang saya lakukan sekarang. Untung saja orangtua saya kooperatif kalau ada berita selalu tanya ke anak-anaknya yang dianggap lebih melek internet dibanding beliau-beliau ini. Jadinya bisa sembari dijelaskan meskipun ya kadang adu pendapat juga sampe pusing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikut senang mendengarnya. Semoga bisa tetap menjadi penyaring dan pelurus berita, ya!

      Hapus
  8. iy mas infodemi kadang jauh lebih mengerikan dari coronanya sendiri

    parno jadinya dan malah melebar ke mana mana

    dan bener, info dari WAG yang dimiliki oleh orang tua sering jadi sumber mengerikan infodemi meski enggak semua

    TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk itulah kita harus saling membantu meluruskan berita-berita yang keliru, atau informasi-informasi yang salah.

      Semoga Mas Ikrom dan keluarga tetap sehat, ya.

      Hapus
  9. Gimana sih caranya ngasih tau orang tua yang memang banyak berpedoman pada informasi yang tersebar di whatsapp buat nggak gampang percaya sama berita? Takut durhaka gue.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di paragraf kedua dari akhir di tulisan di atas ada tautan ke blog Ardi Wilda yang bahas soal itu. Tulisan Ardi bisa jadi referensi.

      Hapus
  10. Makanya saya suka sebel sama orang yg hobinya nyebarin berita yg belum jelas kbenarannya. Karna dikhawatirkan orang2 percaya gitu aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang terlalu reaktif itu kadang-kadang tidak baik. Dan sayangnya masih ada banyak orang yang enggan mempertanyakan tingkat keakuratan sebuah informasi. Jadinya semacam lingkaran setan.

      Hapus
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)